Pasrepan, 16 Maret 2025 – Di tengah dinamika harga gabah yang sering naik-turun, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga. Menyadari hal tersebut, Sukadamai Rice Mill menggelar acara Temu Mitra Tani 2025 pada Ahad pagi yang cerah.
Bertempat di Aula Sukadamai Rice Mill, Jalan Moyo, Desa Jogorepuh, acara ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah momen duduk bersama antara manajemen pabrik dengan sekitar 60 orang mitra—mulai dari petani penggarap, penebas, hingga pengepul lokal dari wilayah Pasuruan dan sekitarnya.
Tujuannya satu: meluruskan benang kusut di lapangan, terutama soal transparansi harga dan standar kualitas gabah, agar kerja sama ke depan semakin adil dan nyaman bagi kedua pihak.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Nasib Petani
Acara dibuka tepat pukul 08.30 WIB dengan sambutan hangat dari Direktur Utama Sukadamai, Bapak H. Ahmad Sudarmono. Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa Sukadamai tidak bisa besar sendirian.
“Kami ingin setiap karung gabah yang masuk ke sini dihargai dengan cara yang bisa dijelaskan. Tidak boleh ada angka siluman atau potongan yang tidak masuk akal. Karena di balik setiap butir padi, ada keringat mitra kami,” ujar H. Ahmad Sudarmono di hadapan peserta.
Pesan ini menjadi pondasi diskusi hari itu: menghapus “ruang abu-abu” yang sering memicu kecurigaan antara petani dan pabrik.
Buka Kartu: Begini Cara Kami Menilai Gabah Anda
Sesi inti acara diisi dengan pemaparan teknis namun dibawakan dengan bahasa yang sangat membumi oleh Bapak Fajar Wicaksono (Kepala Operasional) dan Ibu Siti Rahmawati (Kepala Keuangan & Kemitraan).
Tidak ada istilah rumit. Tim Sukadamai langsung membawa contoh fisik ke tengah ruangan.
1. Membedah Kadar Air & Kebersihan
Pak Fajar menunjukkan dua sampel gabah. Satu kering ideal (sekitar 13-14%), satu lagi lembap. Beliau menjelaskan bagaimana kadar air yang tinggi bukan hanya soal “berat air”, tapi risiko jamur dan beras patah saat digiling.
Selain itu, diperlihatkan juga contoh gabah “kotor” yang banyak bercampur jerami dan batu, dibandingkan dengan gabah bersih. “Gabah bersih itu mahal, karena rendemen berasnya tinggi. Kalau banyak kotoran, mesin kami rusak, hasil berasnya pun sedikit. Jadi wajar kalau harganya beda,” jelasnya.

2. Transparansi Rumus Harga
Ibu Siti Rahmawati kemudian menjelaskan cara menghitung harga. Beliau menegaskan bahwa Sukadamai tidak menggunakan sistem potongan tetap per karung (misal: pukul rata potong 5 kg) tanpa dasar.
Setiap penyesuaian harga didasarkan pada angka yang keluar dari alat ukur (moisture meter) dan timbangan kotoran yang bisa disaksikan langsung oleh petani.
Diskusi Hangat: Dari Selisih Timbang hingga Kartu Mitra
Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Para mitra yang hadir tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg.
Salah satu momen menarik datang dari Bapak Slamet Riyadi, petani dari Desa Wonokerto. Beliau menanyakan isu sensitif: “Bagaimana kalau timbangan di lapangan beda dengan timbangan pabrik?”.
Manajemen menjawab dengan tegas: Petani berhak meminta penimbangan ulang jika ada selisih yang tidak wajar. Hasilnya akan dicatat dalam berita acara bersama agar tidak ada yang merasa dicurangi.
Masukan konstruktif juga datang dari Bapak Nur Kholis, pengepul asal Pasrepan. Beliau mengusulkan adanya “Kartu Mitra” atau sistem database agar riwayat pengiriman gabah tercatat rapi. Usulan ini disambut baik dan akan segera dimasukkan dalam pengembangan sistem digital Sukadamai.

Komitmen Kami: Jelas, Terbuka, dan Mengedukasi
Di penghujung acara, manajemen Sukadamai merangkum hasil pertemuan menjadi tiga komitmen kerja:
- Transparansi Mutlak: Proses uji kadar air dan sortir kotoran wajib transparan dan bisa dilihat mitra. Lembar panduan standar mutu akan dibagikan sebagai pegangan.
- Komunikasi Lancar: Akan dibentuk Grup WhatsApp Mitra Resmi untuk update harga harian dan jadwal giling, supaya petani tidak ketinggalan info.
- Edukasi Berkelanjutan: Sukadamai akan menggandeng penyuluh untuk rutin mengadakan pelatihan singkat soal panen dan pengeringan.
Penutup: Langkah Awal untuk Musim Panen yang Lebih Baik
Acara ditutup pukul 12.00 WIB dengan doa dan ramah tamah sederhana. Wajah-wajah yang pulang tampak lebih lega. Bukan hanya karena makan siangnya, tapi karena ada kepastian bahwa suara mereka didengar.
Temu Mitra Tani 2025 ini adalah bukti bahwa di Sukadamai, kami tidak sekadar berbisnis gabah. Kami sedang membangun keluarga besar.
Terima kasih kepada seluruh mitra yang hadir. Sampai jumpa di musim panen raya dengan semangat baru!


